The Power of Habit
Suatu hari, di pasar Cikociko, Bandung, terjadi kebakaran yang menghanguskan sebagian bangunan pasar, mulai dari ruko hingga kios-kios pasar. Ketika semua pedagang sudah dievakuasi, tinggallah seorang ibu dengan bayinya di lantai 1 sebuah ruko. Padahal lantai dasar bangunan tersebut sedang dilahap api dan sulit ditembus oleh tim pemadam kebakaran.
Sambil berdiri di pinggir teras pintu lantai 1 rukonya yang bertingkat, ibu itu berteriak sambil menggendong bayinya. Dengan begitu ia berharap akan ada yang membantunya untuk menyelamatkan sang bayi dan dirinya sendiri. Kepala tim pemadam kebakaran yang datang bersama regunya meminta agar si ibu bersama bayinya turun dengan tangga darurat yang tersedia di mobil dinas kebakaran tersebut. Sayang, sang ibu tidak tersedia. Lalu tim pemadam kebakaran memasang jaring yang kuat agar si ibu melompat saja bersama bayinya. Tawaran ini pun disambut sang ibu dengan gelengan kepala. Alternatif terakhir pun diberikan, yakni tim pemadam kebakaran meminta sang ibu menurunkan bayinya dengan alat khusus. Usulan ini pun tetap tidak disetujui oleh ibu yang bersangkutan.
Drama penyelamatan sang ibu dan bayi ini tak pelak lagi telah menyedot perhatian yang sangat besar dari masyarakat sekitar. Bahkan, beberapa kamerawan stasiun televisi tampak sibuk merekam peristiwa yang terjadi. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan sang ibu dan bayinya adalah dengan meminta mereka terjun dengan pengaman khusus atau bayinya terlebih dahulu yang diselamatkan.
Ketika tim pemadam kebakaran sedang serius memutar otak untuk menyelamatkan sang ibu dan bayi, lewatlah Imade Irawan, salah satu kiper bola Internasional yang bermain untuk klub Liga Persib Bandung. Rupanya, Imade Irawan dan teman-temannya sedang berkunjung ke Cikociko Bandung itu untuk bernostalgia sekaligus menikmati coki-coki Cikociko kesukaannya.
Melihat Imade Irawan lewat, sang ibu berteriak dengan keras, "Heeeey Imade Irawan! Kumaha damang?"
Imade pun berhenti sejenak menyaksikan apa yang sedang terjadi. Ternyata, si ibu seorang maniak pertandingan sepakbola dan Imade Irawan adalah bintang favoritnya. Melihat kondisi demikian, kepala tim dinas kebakaran spontan menemukan ide. Mungkin selama beberapa waktu tadi si ibu tidak percaya dengan kompetensi tim pemadam kebakaran untuk menyelamatkan mereka berdua. Siapa tahu, si ibu lebih percaya kepada Imade. Oleh karena itu, ia meminta kepada sang ibu agar melemparkan bayinya kepada Imade Irawan, nanti baru menyelamatkan sang ibu. Mendengar tawaran itu, sang ibu sangat setuju. Logikanya, Imade adalah kiper handal sepak bola liga Persib Bandung, jadi bola saja bisa ditangkap apalagi bayi.
Setelah menjelaskan apa yang terjadi, Imade pun setuju untuk menolong ibu tersebut. Lalu ia memakai sarung tangan dan bersiap-siap untuk menangkap sang bayi. Masyarakat yang menyaksikan peristiwa ini pun terdiam dan bedebar-debar, kalau-kalau tidak dapat ditangkap. Setelah diberi aba-aba oleh petugas, sang ibu pun dengan kepercayaan diri yang tinggi melemparkan bayinya kepada Imade Irawan. Begitu bayi di lempar, Imade langsung menangkapnya dengan gaya persis seperti ia menangkap bola. Alhasil, bayi itu berhasil diselamatkan. Begitu bayi berhasil ditangkap, sorak-sorai dan tepuk tangan penonton bergemuruh. Mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat, seketika itu juga Imade berlari dengan bayi yang ada di tangannya. Lalu... melempar kembali bayi tersebut kepada ibunya yang masih terjebak kebakaran!
***
Para ahli jiwa mengatakan 90% tingkah laku kita sehari-hari diwarnai dan dipengaruhi oleh kebiasaan kita sendiri. Pada mulanya, kebiasaan kita membentuk semacam benang yang tidak terlihat. Tetapi dengan pengulangan, benang tadi melilit menjadi tali dan kemudian menjadi tambang. Setiap kali kita mengulangi sebuah tindakan, kita menambahkan dan menguatkan tindakan tersebut.
John Dryden pernah bertutur, "Pertama kita yang membentuk kebiasaan, selanjutnya kebiasaan-kebiasaanlah yang membentuk kita."
Sebagai contoh, kebiasaan merokok. Mula-mula kita yang membentuk kebiasaan itu, lama-kelamaan kebiasaan itu malah mengendalikan hidup kita (bagi sebagian orang tentunya). Demikian pula halnya untuk melakukan kebiasaan yang baik. Mula-mula sulit dan cenderung menolak, namun lama-kelamaan kita menikmatinya bahkan menjadi trend mark.
Hal Urban mengatakan, arti asli habbit (kebiasaan) adalah garment (pakaian) atau a piece of clothing (sepotong kain). Sebagaimana pakaian, kita menggunakannya setiap hari di mana pun kita berada. Menanggalkan kebiasaan buruk tentu tidak semudah mengenakannya, sebab diperlukan usaha dan niat yang kuat. Penemuan lain dari para ahli untuk menanggalkan kebiasaan buruk adalah dengan melakukan pengalihan kegiatan dari kebiasaan tersebut. Ketika kebiasaan tersebut mulai menggoda, maka seketika juga kita memilih mengalihkannya pada kegiatan lain.
Seseorang pernah berkata, bahwa hidup ini adalah perjuangan, termasuk perjuangan melawan kebiasaan buruk. Namun, yang menyedihkan adalah mereka yang terus menikmati kebiasaan buruknya hingga terbawa ke liang kubur tanpa sempat berikhtiyar untuk meninggalkannya. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan kalau kita berniat, diiringi usaha, serta memohon kekuatan kepada Allah SWT untuk mendapatkan yang terbaik.
Referensi :
Parlindungan Marpaung
x
Pas nyampe i made ngakak varahh..kmh damang?�� skipp.. asli ga kuat ngelanjutinnya����
BalasHapusTurut senang jika hal itu membuatmu bahagia, anonimous :)
BalasHapus