Manisnya Hawa Nafsu itu Pahit
Melakukan hal yang haram, merupakan salah satu hal nyata dari unggulnya rasa hawa nafsu yang ada di dalam hati dibanding iman yang belum berarti bagi seorang manusia. Padahal, hati merupakan anggota tubuh yang sangat menentukan gerak langkah raga dan jiwa. Hal ini diperkuat dengan ucapan Rasulullah saw. yang mengingatkan bahwa, “ingatlah kamu, di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Apabila baik, maka baiklah keseluruhan segala perbutannya, dan apabila buruk, maka buruklah keseluruhan tingkah lakunya. Ketahuilah kamu, segumpal daging itu adalah hati.”
Ungkapan Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa “hati” merupakan elemen yang paling memiliki tingkat urgensi teratas bagi manusia. Kebaikan dan keburukan manusia bersumber dari hati, yang merupakan pembimbing serta pengarah bagi seluruh aspek lahiriyah yang ada pada diri manusia. Bilamana hatinya sudah tercampur dengan keburukan dan mulai membusuk, maka segala tingkah lakunya akan keji dan jahat, ia akan senantiasa condong ke arah maksiat, dengan mudahnya mengikuti kehendak hawa nafsu, dan seringkali mengabaikan akal sehatnya. Hal ini diperkuat dengan ungkapan Imam Al-Ghazali, bahwa Idzaa thaaba al-maliku thaabat junuduhu yang artinya, perumpamaan hati bagaikan raja yang ada dalam diri manusia. Sebagai raja, dia memiliki tentara yang tidak bisa menolak segala perintah dan larangannya.
Kendali hati selalu beriringan dengan hawa nafsu. Hawa nafsu ada yang mengarahkan pada kebaikan ada pula sebaliknya. Jika melihat pemaparan sebelumnya, yang perlu dipahami lebih dalam adalah, bagaimana cara “memerangi” hawa nafsu yang mendorong pada hal yang haram?. Mari kita pahami makna dari hawa nafsu itu sendiri, dimulai dari pendapat Ibnu Ata’illlah dalam Kitabnya yang berjudul Al-Hikam. “Tamakkunu halaawatil-hawaa minal-qolbi huwaddaaul-‘udhoolu” artinya, manisnya hawa nafsu yang ada dalam hati, adalah penyakit yang sulit disembuhkan. Hati itu tempat bertahtanya raja yaitu Iman, makrifatnya adalah keyakinan, dan semua ini adalah obat bagi penyakit yang diakibatkan oleh hawa nafsu dan syahwat. Akan tetapi, jika penyakit hawa nafsu sudah menjalar ke hati, tidak ada lagi tempat pengobatannya, sulit untuk sembuh.
Hawa nafsu dan syahwat lahiriyah termasuk penyakit hati yang sering hadir pada manusia. jika hawa nafsu itu telah masuk dan tertanam di hati, maka rusaklah hati, dan jika dibiarkan saja, lama-kelamaan akan membusuk dan sulit disembuhkan. Dosa karena hawa nafsu itu, ibarat setetes kotoran gelap yang jatuh di atas lembaran hati manusia. Sekali manusia berbuat dosa, yang jika dilakukan secara berkala, lama kelamaan akan menutup seluruh permukaan hati, sehingga gelaplah hati. Ia tertutup dari sinar iman karena sudah terpenuhi oleh kegelapan dosa dan hawa nafsu.
Hawa nafsu syahwat memang selalu mengajak pada keburukan. Ia akan mendatangi manusia, ketika jiwa manusia itu sedang kosong dari iman dan dzikir. Pun di dalamnya pula setan telah mengatur strategi dan mengarahkannya agar lebih mudah dan pandai berhadapan dengan manusia yang selalu dzikir kepada Allah. Sebab hawa nafsu tidak akan mampu berhadapan dengan hamba Allah yang selalu dzikrullah.
Maka, memelihara dan menjaga kebersihan hati adalah sifat orang beriman dan para hamba yang sholeh. Hati itu adalah cahaya dalam diri manusia, ia adalah pelitan kehidupan manusia beriman. Jagalah, jangan sampai pelita yang sedang bercahaya itu meredup. Jikalau suatu waktu pelita hati itu redup, cepatlah obati, kendalikan hawa nafsu itu, dan belokkan ke arah menuju jalan Allah, ibadah yang semula melonggar ayo kembali ditingkatkan dengan perbanyak ibadah dan dzikir, perlahan, hindarilah perkara syubhat dan hal-hal yang mengakibatkan dosa meskipun hanya sekecil biji sawi. Penuhi kembali hati dengan tetesan air mata iman dan pendekatan dzikrullah, itu adalah satu-satunya obat hati.
Selain dengan ibadah dan dzikir, melangkah kembali menuju Allah harus diiringi dengan dukungan orang-orang disekitar yang membawa suasana baik yang positif bagi diri sendiri. Dekatilah orang-orang yang dengan melihatnya, teringat akan hadirnya Allah itu nyata mengawasi selama dua puluh empat jam tanpa henti, yang dengan berbicara dengannya, menyadarkan kita bahwa hidup di dunia ini hanyalah sebuah perjalanan untuk tujuan akhir, yang dengan berdiskusi dengannya, menghadirkan rasa takut dari dalam hati. Takut yang sampai menggetarkan jiwa manusia, adalah ketakutan yang akan menimpa di hari akhirat dan siksa Allah di dunia jika kita membiarkan lama hawa nafsu menggerogoti hati, sehingga jiwa menjadi merana dan tak berdaya. Rasa takut yang diiringi dengan rasa rindu kepada Allah dalam hati dan jiwa manusia, adalah dua kekuatan yang berpadu menjadi satu yang mampu memberi dorongan menghadapi hawa nafsu, sekaligus menghancurkannya.
Seperti nasihat Buya Hamka yang harus kita renungkan bahwa,
hawa
nafsu itu pangkalnya manis, ujungnya pahit.
Sedangkan iman itu pangkalnya pahit, tapi ujungnya manis.
Disinilah kita dapat lebih memahami bahwa tujuan Allah menegaskan orang yang beruntung adalah yang beriman, bertakwa dan beramal sholeh. Selalu memandang yang halal itu halal, dan memandang yang haram tetap haram, bukan harum.
Wallahu a’lam.
**********
Referensi :
Ata’illah, Syekh Ahmad. 1995. Mutu Manikam Dari Kitab Al-Hikam (Saduran dan Ikhtisar). Surabaya: Mutiara Ilmu.
Nawawi, Imam. 2020. Yang Haram Jangan dipandang Harum. Koran digital Republika.co.id
Tim Redaksi. 2013. Perilaku Baik Buruk Tergantung Hati. Artikel uinsgd.ac.id.
Komentar
Posting Komentar